Kamis, 26 September 2019
Rabu, 25 September 2019
Analisis Subjek
ANALISIS SUBJEK
Klasifikasi
yang umum digunakan pada perpustakaan sekarang ini adalah mengunakan
klasifikasi fundamental. Artinya, klasifikasi dilakukan berdasarkan fundamental
suatu buku, sehingga apa pun perubahan fisik buku, baik warna, tinggi maupun lebar
buku, tidak memengaruhi subjek atau isi buku itu sendiri.
Analisis
subjek merupakan hal yang sangat penting dan memerlukan kemampuan intelektual,
karena disinilah bahan pustaka ditentukan tempatnya dalam golongannya. Kekeliruan
dalam menentukan subjek dapat menyesatkan pengguna. Selanjutnya, subjek
tersebut diterjemahkan ke dalam kode tertentu berdasarkan suatu sistem,
sehingga setiap bahan pustaka akan mempunyai identitas subjek tertentu pula. Kegiatan
ini dinamakan dengan “ deskripsi indeks”.
Untuk
melakukan analisis subjek, penganalisis perlu mengetahui prinsip-prinsip
dasarnya. Prinsip-prinsip tersebut dibagi menjadi tiga bagian besar, yang
kemudian diperinci kembali ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, tiga bagian
besar analisis subyek adalah pada disiplin ilmu, yaitu buku yang dianalisis
harus masuk ke dalam disiplin ilmu tertentu, objek bahasan atau fenomena, yaitu
setelah ditentukan disiplin ilmu tertentu buku tersebut harus jelas membahas
tentang suatu kajian atau fenomena tertentu dalam disiplin ilmu tersebut, dan
bentuk, yaitu setelah ditentukan bentuk objek kajian atau fenomenanya dalam
suatu bentuk tertentu.
a.
Disiplin
ilmu
Dalam analisis subjek, pertama kali yang harus
ditentukan adalah disiplin ilmu atau bidang ilmu pengetahuan yang dicangkup
oleh bahan pustaka yang dianalisis tersebut. Sebagai contoh, buku berjudul “Perkembangan
Koperasi Sepuluh Tahun Terakhir”. Maka dapat ditentukan bahwa disiplin ilmu
untuk buku ini adalah “Ekonomi”. Kemudian dapat ditentukan pula objek
pembahasannya yang juga sebagai fasetnya adalah “koperasi”. Dan konsep ketiga,
yang harus ada adalah bentuk, maka bentuk penyajian buku ini adalah sejarah,
mengingat unsur waktu atau perkembangan dari waktu ke waktu sangat dominan.
b.
Objek
pembahasan atau fenomena
Objek pembahasan atau fenomena ialah benda atau wujud
yang menjadi titik kajian suatu disiplin ilmu. Misalnya, dalam buku berjudul “
pendidikan wanita”, pendidikan merupakan disiplin ilmu dan wanita merupakan
objek atau titik kajian dari disiplin ilmu, atau dengan kata lain fenomena atau
objek kajian dapat ditentukan setelah disiplin ilmu dalam suatu bahan pustaka
sudah ditentukan.
Fenomena yang dikaji oleh berbagai disiplin ilmu dapat
dibedakan atas dua kategori. Pertama, objek konkret, misalnya gedung, meja,
buku dan lain-lain. Kedua, objek abstrak, mislanya moral, hukum, adab,
lain-lain.
c.
Bentuk
Pembahasan mengenai “bentuk” berbeda dengan konsep
subyek yang menunjukkn mengenai tema atau isi suatu bahan pustaka. Konsep
bentuk lebih merujuk pada bagaimana penyajian suatu kajian dari bahan pustaka
itu. Dalam hal ini dapat dibedakan ke dalam tuga bentuk berikut.
1.
Bentuk fisik, yaitu sarana yang digunakan dalam menyajikan suatu
subyek, misalnya dalam bentuk buku, majalah, pita rekaman, mikrofilm, mikrofis
dan lain-lain. Bentuk fisik tidak memengaruhi isi dokumen bahan pustaka,
mislanya subyek “agama” dapat disajikan dalam berbagai bentuk, tapi isinya
tetap pada “agama”.
2.
Bentuk penyajian, yaitu bentuk yang ditekankan pada pengaturan atau
organisasi isi dokumen bahan pustaka.
3.
Bentuk intelektual, yaitu aspek yang ditekankan pada suatu subjek,
misalnya buku yang berjudul “filsafat hukum”, di sini yang menjadi subjek
adalah “hukum”. Sementara “filsafat” adalah bentuk intelektual yang mejnjadi
titik tekan dalam pembahasan subyek “hukum” tersebut, sehingga bentuk yang
dapat disajikan adalah bentuk elektual.
Untuk mengurangi subjektivitas dalam melakukan
analisis subjek dan agar dapat dilakukan secara taat asas, perlu dikenali
jenis-jensi subjek yang terdapat dalam bahan pustaka yang dianalisis. Pada
pokoknya terdapat empat jenis subyek yang memiliki kaidah, yaitu sebagai
berikut.
1.
Subjek
Dasar
Subjek dasar adalah subjek yang merupakan bidang
pengetahuan secara umum tanpa ada suatu fenomena tertentu. Contohnya,
“Pengantar Ilmu Pendidikan”. Subjek judul tersebut dapat dirangkum dengan
“pendidikan” saja, tanpa fenomena.
2.
Subjek
Sederhana
Subjek sederhana adalah subjek yang membahas disiplin
ilmu tetentu yang disertai dengan satu faset (ciri) aja, atau dengan kata lain,
subjek dasar yang disertai dengan satu fenomena.
Contoh: “ Sekolah Dasar”
Disiplin
ilmu = Pendidikan
Fenomena =
Pendidikan Dasar
3.
Subjek
Majemuk
Subjek majemuk adalah jika subjek dasar disertai
fokus-fokus yang berasal dari dua faset atau lebih. Atau jika subjek dasar
disertai lebih satu fenomena.
Contoh: “ Perguruan Tinggi di Indonesia”.
Disiplin
ilmu =
Pendidikan
Fenomena
1 =
Perguruan Tinggi
Fenomena = Indonesia
4.
Subjek
Kompleks
Subjek kompleks adalah suatu bahan pustaka yang
memiliki dua atau lebih disiplin ilmu.
Contoh: “ Dasar-Dasar Pendidikan Ilmu Perpustakaan”
Disiplin
ilmu 1 = Pendidikan
Disiplin
ilmu 2 = Perpustakaan
Dalam melakukan analisis subjek terhadap subjek
kompleks ini harus dilakukan pemilihan secara taat asas subjek-subjek yang
diutamakan atau yang perlu dihimpun di perpustakaan. Yang perlu diperhatikan
adalah hubungan interaksi atau hubungan fase antar subjek-subjek yang ada,
sebab dalam subjek kompleks ini terdapat empat hubungan fase-fase berikut.
1.
Fase bias, yaitu jika suatu subjek digunakan untuk kelompok tertentu. Dalam hal
ini, yang diutamakan adalah subjek yang digunakan.
Contoh:
“Koperasi untuk Sekolah Dasar”
Rangkuman : EKONOMI/ KOPERASI/ PENDIDIKAN/
SEKOLAH DASAR
Disiplin
ilmu :Ekonomi
Fenomena 1 : Koperasi
Rangkuman
Pilihan : EKONOMI/ KOPERASI
2.
Fase pengaruh, yaitu jika terdapat subjek dasar yang memengaruhi
subjek dasar yang lain. Dalam hal ini, yang diutamakan adalah subjek yang
dipegaruhi.
Contoh:
“Pengaruh Pendidikan Desa”
Disiplin
ilmu 1 : Pendidikan
Disiplon
ilmu 2 : Sosiologi
Fenomena : Desa
Rangkuman : SOSIOLOGI/DESA
3.
Fase alat, yaitu jika subjek dasar digunakan sebagai alat untuk menjelaskan atau
membahas subjek dasar yang lain. Dalam hal ini, yang diutamakan adalah subjek
yang dijelaskan atau yang dibahas.
Contoh:
“Pengaruh Statistik pada Perkembangan Keluarga Berencana di Indoensia”
Disiplin
ilmu : Statistik
Disiplin
ilmu 2 : Sosiologi
Fenomena 1 : Keluarga Berencana
Fenomena 2 : Indonesia
4.
Fase perkembangan, yaitu jika dalam satu bahan pustaka terdapat dua
subjek atau lebih yang berasal dari dua disiplin ilmu atau lebih. Hubungan fase
dapat bersifat perbandingan baik secara jelas maupun samar. Dalam subjek
kadang-kadang hubungan antar subjek tersebut sama sekali tidak terasa, sehingga
hanya berupa gabungan dua subjek atau lebih, atau gabungan dari dua disiplin
ilmu atau lebih.
Contoh:
“Islam dan Ilmu Pengetahuan”
Disiplin
ilmu 1 : Islam
Disiplin
ilmu 2 : Ilmu Pengetahuan
Rangkuman : ISLAM/ ILMU PENGETAHUAN
Sumber Referensi
Basuki,
Sulistio. 1991. Pengantar Ilmu
Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Darwis. 2014. Pengolaan Bahan Pustaka Klasifikasi dan
Katalogisasi. Bandung: Yarama Widia
Suwarno, Wiji. 2010. Pengetahuan Dasar Kepustakawanan. Bogor:
Ghalia Indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)
INOVASI UNTUK MEMINIMALISIR SISTEM LAYANAN TERBUKA DAN SISTEM LAYANAN TERTUTUP DI PERPUSTAKAAN
INOVASI UNTUK MEMINIMALISIR SISTEM LAYANAN TERBUKA DAN SISTEM LAYANAN TERTUTUP DI PERPUSTAKAAN A. Pengertian Sistem Layan...
-
ANALISIS SUBJEK Klasifikasi yang umum digunakan pada perpustakaan sekarang ini adalah mengunakan klasifikasi fundamental. Ar...
-
SIKLUS TRANSFER INFORMASI A. Pengertian Informasi Informasi adalah data yang sudah diolah menjadi sebuah bentuk yang berguna ...