PENGINDEKSAN SUBJEK
A.
Pengertian
Pengindeksan
Pengindeksan
menjadi bagian penting kegiatan perpustakaan dalam rangka mengelola informasi
sedemikian rupa sehingga informasi mudah ditemukan kembali oleh pemustaka.
Bahan pustaka yang ada diperpustakaan tidak begitu saja disimpan dan disajikan,
melainkan ada cara dan tekhnis tertentu yang diberlakukan terhadap bahan
pustaka. Tujuannya adalah siapapun yang ingin mengakses buku tersebut bisa
melakukannya dengan mudah. Pada saat bersamaan, pengindeksan ini menghasilkan
produk-produk yang cukup membantu pemustaka menelusur informasi yang
dibutuhkannya. Katalog, indeks, bibliografi, serta abstrak adalah bagian dari
hasil pengindeksan yang dimaksud.
Indeks dari
segi Bahasa di defenisikan sebagai berikut:
- Sesuatu yang menunjuk atau menanda.
- Daftar nama-nama yang disusun secara alfabetis
Dapat dikatan pula bahwa indeks merupakan daftar
urutan nama, tempat, ataupun subjek dalam sebuah dokumen yang diterbitkan.
Defenisi lain menjelaskan pengindeksan adalah sebagai sesuatu proses
menganalisis isi kandungan suatu bahan atau sumber informasi dan menerangkannya
dengan menggunakan Bahasa atau istilah didalam sistem pengindeksan. Pengindeksan
ini perlu dilakukan dalam pengelolaan informasi karena dapat berfungsi:
- Memberi panduan secara rinci untuk mendapatkan suatu informasi.
- Memudahkan pencarian suatu informasi dengan baik dan benar.
- Membantu dalam mencari suatu informasi yang akan dicari.
- Memberitahu hubungan antara sumber informasi dengan sumber informasi lainnya.
- Menyediakan suatu pandangan yang menyeluruh yang terdapat dalam teks atau koleksi.
B.
Proses
Pengindeksan Subjek
Pengorganisasian
koleksi dalam perpustakaan umumnya dilaksanakan dalam dua tahap yaitu:
1.Penyusunan
secara sistematis bahan-bahan itu dalam rak, lemari atau tempat lain sesuai
bentuknya.
2. Pembuatan
daftar atau lazim disebut katalog baik bentuk kartu maupun buku lain.
Pengindeksan terbagi menjadi dua proses atau tahap yaitu:
a. Penkatalogan
Deskribtif
Hasil penkatalogan deskribtif adalah
wakil dokumen atau cantuman bibliografi yang terdiri atas:
1.Deskribsi
bibliografi (bibliographic description).
2.Tajuk-tajuk
(headings) atau temu kembali (access points) berupa nama orang atau badan
korporasi, nama geografi dan judul.
b. Pengindeksan
Subjek
Pengindeksan subjek terdiri dari dua tahap yaitu:
1. Analisis Subjek
2. Penerjemahan
C. Analisis Subjek
Pada tahap ini
pengindeksan (indexer) mempelajari isi dokumen untuk mengetahui subjek-subjek
apa saja yang dibahas dalam dokumen. Bagian-bagian yang mendapatkan perhatian
khusus adalah judul dokumen, daftar isi, kata pengantar, dan pendahuluan, sebab
dibagian-bagian inilah biasanya terdapar informasi yang bermanfaat untuk
mendapatkan lembaran tentang pokok-pokok bahasan dokumen. Selain itu “browsing”
dalam dokumen juga bisa bermanfaat hasil dari analisis ini ialah catatan
ringkasan tantang subjek-subjek pokok dokumen.
- Pengindeks “ menerjemahkan” hasil analisis subjek dengan cara:
- Mencari dalam bagan klasifikasi (classifications schema, misalnya Dewey Decimal Classification) nomor kelas yang sesuai untuk mewakili subjek dokumen. nomor kelas ini menjadi unsur pertama dari nomor panggil ( call number) apabila diperpustakaan tersebut dokumen disusun menurut subjek.
- Mencari dalam daftar tajur subjek (subjek heading list misalnya daftar tajuk subjek UI) satu atau lebih tajuk yang sesuai untuk menyatakan subjek dokumen. tajuk subjek ini dijadika tajuk entri tambahan yang memungkinkan pengguna katalog menelusur lewat subjek.
Pada tahap
pengindeksan subjek juga perlu dilakukan pengendalian tajuk authority control agar penelusur bisa menghasilkan
match. Dalam daftar tajuk subjek tercantum:
- Istilah yang menjadi tajuk.
- Istilah sinonin yang tidak boleh dipakai sebagai tajuk.
- Istilah (tajuk subjek) yang berhubungan.
D. Jenis-jenis Tajuk
1. Tajuk kata Benda Tunggal
Dalam
memilih tajuk yang berupa kata benda
tunggal dipertimbangkan untuk memilih istilah dengan prioritas sebagai berikut:
v
Istilah yang
paling dikenal masyarakat. Misalnya, “MASKAWIN” bukan “mahar”.
v
Istilah yang
paling banyak digunakan dalam katalog. Misalnya”QURAN” bukan “ALquran”.
v
Istilah yang
paling spesifik pengertiannya. Misalnya “ KOPERASI” lebih spesifik dari
“Ekonomi”
2. Tajuk Ganda
Sering kali suatu Subjek sulit untuk dicarikan istilahnya dalam
bentuk tunggal. Dalam hal ini, digunakan kata ganda atau frasa, dengan
komposisi sebagai berikut:
a) Tajuk Adjektif,
yaitu kata benda disertai kata sifat seperti “EKONOMI MIKRO”. Atau kata benda
disertai kata benda lain sebagai sifat, seperti “FATWA ULAMA”. Tajuk subjek
jelas ini kadang-kadang susunanya dibalik dengan maksud untuk lebih
mementingkan kata yang didahulukannya seperti “HUKUM, PAKAR” bukan Pakar Hukum.
b) Tajuk frasa ,
yaitu dua kata benda atau lebih tanpa disertai kata hubung sepeti “LABEL
MAKANAN HALAL”
c) . Tajuk yang
dibalik, dalam satu atau dua hal, tajuk yang terdiri dari dua atau lebih kata
perlu dilakukan pembalikan.
d) Tajuk Gabungan,
yaitu dua kata benda yang dihubungkan dengan preposisi seperti
“
KELUARGA BERENCANA DALAM MAZHAB BARAT”.
1 3. Tajuk dengan Tambahan
Banyak subjek perlu diperinci berdasarkan
bermacam-macam aspek. Pemerincian menurut aspek ini dikenal dengan istilah
“subdivisi subjek".
a. Subdivisi
menurut Bentuk
Subdivisi ini
dapat didenifinisikan sebagai suatu tajuk yang di dasarkan pada bentuk atau
penyusunan materi subjek dalam buku. Misalnya, suatu kelompok karya tentang
“PENDIDIKAN” yang mencakup seluruh bidang subjeknya. Kelompok karya itu mungkin
meliputi berbagai bentuk penyajian dan penyusun sehingga perlu memerinci
kedalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.
Contoh:
PENDIDIKAN-BIBLIOGRAFI
b.Subdivisi
menurut Topik
Adakalanya suatu subjek umum diolah dari sudut
aspek khusus, kadang-kadang aspek itu merupakan topik.
Contoh:
PENDIDIKAN-KURIKULUM
c.Subdivisi
menurut tempat
contoh:
HUKUM ADAT-JAWA
d. Subdivisi
menurut waktu
subdivisi
menurut waktu mempunyai tujuan membatasi materi suatu subjek menurut periode
atau waktu tertentu.
SISTEM
PEMERINTAHAN-MASA ORDE BARU
4.Tajuk Nama Diri.
Nama diri baik nama orang, lembaga atau lainnya, seperti nama sungai,
nama wilayah, nama negara, dapat digunakan untuk tajuk subjek. Bentuk tajuk
dalam hal ini sebagai mana diatur dalam peraturan katalogisasi tentang
penentuan bentuk tajuk.
Contoh:
AL-SYAFI’I,
MUHAMMAD IBN IDRIS
Bukan
imam syafi’i
Bukan
pula Muhammad Bin Idris al-syafi’i
Tidak ada komentar:
Posting Komentar