Rabu, 26 Desember 2018

Pengindeksan Subjek


PENGINDEKSAN SUBJEK
      A.    Pengertian Pengindeksan
         Pengindeksan menjadi bagian penting kegiatan perpustakaan dalam rangka mengelola informasi sedemikian rupa sehingga informasi mudah ditemukan kembali oleh pemustaka. Bahan pustaka yang ada diperpustakaan tidak begitu saja disimpan dan disajikan, melainkan ada cara dan tekhnis tertentu yang diberlakukan terhadap bahan pustaka. Tujuannya adalah siapapun yang ingin mengakses buku tersebut bisa melakukannya dengan mudah. Pada saat bersamaan, pengindeksan ini menghasilkan produk-produk yang cukup membantu pemustaka menelusur informasi yang dibutuhkannya. Katalog, indeks, bibliografi, serta abstrak adalah bagian dari hasil pengindeksan yang dimaksud. 
Indeks dari segi Bahasa di defenisikan sebagai berikut: 

  •       Sesuatu yang menunjuk atau menanda.
  •     Daftar nama-nama yang disusun secara alfabetis
                Dapat dikatan pula bahwa indeks merupakan daftar urutan nama, tempat, ataupun subjek dalam sebuah dokumen yang diterbitkan. Defenisi lain menjelaskan pengindeksan adalah sebagai sesuatu proses menganalisis isi kandungan suatu bahan atau sumber informasi dan menerangkannya dengan menggunakan Bahasa atau istilah didalam sistem pengindeksan. Pengindeksan ini perlu dilakukan dalam pengelolaan informasi karena dapat berfungsi:

  •       Memberi panduan secara rinci untuk mendapatkan suatu informasi.
  •       Memudahkan pencarian suatu informasi dengan baik dan benar.
  •        Membantu dalam mencari suatu informasi yang akan dicari.
  •         Memberitahu hubungan antara sumber informasi dengan sumber informasi lainnya.
  •        Menyediakan suatu pandangan yang menyeluruh yang terdapat dalam teks atau koleksi.

       B.    Proses Pengindeksan Subjek
       Pengorganisasian koleksi dalam perpustakaan umumnya dilaksanakan dalam dua tahap yaitu:
1.Penyusunan secara sistematis bahan-bahan itu dalam rak, lemari atau tempat lain sesuai
    bentuknya.
2. Pembuatan daftar atau lazim disebut katalog baik bentuk kartu maupun buku lain.

Pengindeksan  terbagi menjadi dua proses atau tahap yaitu:

       a. Penkatalogan Deskribtif
              Hasil penkatalogan deskribtif adalah wakil dokumen atau cantuman bibliografi yang terdiri atas:
      1.Deskribsi bibliografi (bibliographic description).
     2.Tajuk-tajuk (headings) atau temu kembali (access points) berupa nama orang atau badan korporasi,     nama geografi dan judul.

       b. Pengindeksan Subjek
               Pengindeksan subjek terdiri dari dua tahap yaitu:
      1. Analisis Subjek
      2.  Penerjemahan

      C. Analisis Subjek
      Pada tahap ini pengindeksan (indexer) mempelajari isi dokumen untuk mengetahui subjek-subjek apa saja yang dibahas dalam dokumen. Bagian-bagian yang mendapatkan perhatian khusus adalah judul dokumen, daftar isi, kata pengantar, dan pendahuluan, sebab dibagian-bagian inilah biasanya terdapar informasi yang bermanfaat untuk mendapatkan lembaran tentang pokok-pokok bahasan dokumen. Selain itu “browsing” dalam dokumen juga bisa bermanfaat hasil dari analisis ini ialah catatan ringkasan tantang subjek-subjek pokok dokumen.
  • Pengindeks “ menerjemahkan” hasil analisis subjek dengan cara:
  • Mencari dalam bagan klasifikasi (classifications schema, misalnya Dewey Decimal Classification) nomor kelas yang sesuai untuk mewakili subjek dokumen. nomor kelas ini menjadi unsur pertama dari nomor panggil ( call number) apabila diperpustakaan tersebut dokumen disusun menurut subjek.
  • Mencari dalam daftar tajur subjek (subjek heading list misalnya daftar tajuk subjek UI) satu atau lebih tajuk yang sesuai untuk menyatakan subjek dokumen. tajuk subjek ini dijadika tajuk entri tambahan yang memungkinkan pengguna katalog menelusur lewat subjek.
         Pada tahap pengindeksan subjek juga perlu dilakukan pengendalian tajuk authority  control agar    penelusur bisa menghasilkan match. Dalam daftar tajuk subjek tercantum:
  •     Istilah yang menjadi tajuk.
  •        Istilah sinonin yang tidak boleh dipakai sebagai tajuk.
  •        Istilah (tajuk subjek) yang berhubungan.

D. Jenis-jenis Tajuk
         Menurut jenisnya tajuk subjek dibedakan dalam beberapa bentuk, yaitu:
1. Tajuk kata Benda Tunggal
           Dalam memilih  tajuk yang berupa kata benda tunggal dipertimbangkan untuk memilih istilah dengan prioritas sebagai berikut:

v Istilah yang paling dikenal masyarakat. Misalnya, “MASKAWIN” bukan “mahar”.
v Istilah yang paling banyak digunakan dalam katalog. Misalnya”QURAN”  bukan “ALquran”.
v Istilah yang paling spesifik pengertiannya. Misalnya “ KOPERASI” lebih spesifik dari “Ekonomi”

2. Tajuk Ganda
      Sering kali suatu Subjek sulit untuk dicarikan istilahnya dalam bentuk tunggal. Dalam hal ini, digunakan kata ganda atau frasa, dengan komposisi sebagai berikut:
a)  Tajuk Adjektif, yaitu kata benda disertai kata sifat seperti “EKONOMI MIKRO”. Atau kata benda disertai kata benda lain sebagai sifat, seperti “FATWA ULAMA”. Tajuk subjek jelas ini kadang-kadang susunanya dibalik dengan maksud untuk lebih mementingkan kata yang didahulukannya seperti “HUKUM, PAKAR” bukan Pakar Hukum.
b) Tajuk frasa , yaitu dua kata benda atau lebih tanpa disertai kata hubung sepeti “LABEL MAKANAN HALAL”
c) . Tajuk yang dibalik, dalam satu atau dua hal, tajuk yang terdiri dari dua atau lebih kata perlu dilakukan pembalikan.
d)  Tajuk Gabungan, yaitu dua kata benda yang dihubungkan dengan preposisi seperti
“ KELUARGA BERENCANA DALAM MAZHAB BARAT”.

1     3. Tajuk dengan Tambahan
               Banyak subjek perlu diperinci berdasarkan bermacam-macam aspek. Pemerincian menurut aspek ini dikenal dengan istilah “subdivisi subjek".
      a. Subdivisi menurut Bentuk
        Subdivisi ini dapat didenifinisikan sebagai suatu tajuk yang di dasarkan pada bentuk atau penyusunan materi subjek dalam buku. Misalnya, suatu kelompok karya tentang “PENDIDIKAN” yang mencakup seluruh bidang subjeknya. Kelompok karya itu mungkin meliputi berbagai bentuk penyajian dan penyusun sehingga perlu memerinci kedalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.
        Contoh:
                    PENDIDIKAN-BIBLIOGRAFI
b.Subdivisi menurut Topik
       Adakalanya suatu subjek umum diolah dari sudut aspek khusus, kadang-kadang aspek itu merupakan topik.
             Contoh:
                  PENDIDIKAN-KURIKULUM
      c.Subdivisi menurut tempat
            Bila data dari subjek yang dioleh terbatas pada suatu tempat atau wilayah tertentu, maka subjeknya dapat diperinci menurut tempatnya itu.
      contoh:
                 HUKUM ADAT-JAWA
      d. Subdivisi menurut waktu
        subdivisi menurut waktu mempunyai tujuan membatasi materi suatu subjek menurut periode atau waktu tertentu.
       Contoh:
                        SISTEM PEMERINTAHAN-MASA ORDE  BARU

4.Tajuk Nama Diri.
       Nama diri baik nama orang, lembaga atau lainnya, seperti nama sungai, nama wilayah, nama negara, dapat digunakan untuk tajuk subjek. Bentuk tajuk dalam hal ini sebagai mana diatur dalam peraturan katalogisasi tentang penentuan bentuk tajuk.
       Contoh:
                   AL-SYAFI’I, MUHAMMAD IBN IDRIS
                   Bukan imam syafi’i
                   Bukan pula Muhammad Bin Idris al-syafi’i






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INOVASI UNTUK MEMINIMALISIR SISTEM LAYANAN TERBUKA DAN SISTEM LAYANAN TERTUTUP DI PERPUSTAKAAN

INOVASI UNTUK MEMINIMALISIR SISTEM LAYANAN TERBUKA DAN SISTEM LAYANAN TERTUTUP DI PERPUSTAKAAN            A.     Pengertian Sistem Layan...